
ISU seputar hak asasi manusia (HAM) terus bergulir deras seturut dengan konteks yang ada. Di ladang politik, HAM menjadi komoditi utama tarik-menarik kepentingan. Bagi pemerintah, kalimat “Kami sangat menghargai HAM” menjadi slogan. Pidato dengan bahasa populis pun akan penuh kata “mari saling menghargai”, sekalipun dalam kenyataan akan lain. Di sisi lain, para demonstran yang datang dari berbagai latar belakang, selalu menempatkan diri sebagai yang tertindas, yang HAM-nya dilindas. Namun sama, mereka pun bisa beringas, mencipta kerusakan tanpa penggantian.
Nyaris sulit menemukan diskusi HAM yang elegan, atau tuntut-menuntut yang proporsional alias berimbang antara yang dituntut dan kewajiban yang diberi. Apakah mungkin kita hidup hanya dengan HAK minus kewajiban atau kewajiban minus hak? Dalam konteks kemanusiaan dalam sebuah konstelasi publik, kita mengatur semuanya dengan apa yang kita sebut undang-undang, yang mengatur secara berimbang (benar dan adil), antara hak dan kewajiban. Dengan demikian, keniscayaan hidup bersama dengan tenang dan penuh kasih sayang bukan lagi mimpi seribu satu malam.
Sampai di sini tampaknya mudah, dan dengan segera kita dapat menggapainya. Namun, jika ditanya, pengaturan yang benar menurut siapa? Segera muncul ke permukaan hak yang mengabaikan kewajiban, alias menang-menangan, banyak-banyakan. Hukum rimba berlaku: siapa kuat dia menang. Akal sehat terpinggirkan. Immanuel Kant, seorang filsuf Jerman, pernah mengatakan bahwa yang disebut sebagai norma adalah apa yang bisa diterima semua orang di semua tempat. Di sini, orang adalah pribadi, jadi bukan soal banyaknya orang. Artinya, pengaturan hak dan kewajiban seharusnya adalah apa yang baik bagi tiap orang, bukan bagi tiap kelompok.
Tiap orang, harus dihargai sama dengan yang lainnya, dan menghargai yang lainnya berapa pun jumlahnya, karena hanya dengan demikianlah maka HAM itu memiliki arti. HAM itu menyangkut hak asasi tiap orang, bukan kelompok orang. Jadi diperlukan kedewasaan yang optimal, bukan parsial. Kedewasaan optimal, yaitu kedewasaan yang sudah menggapai tingkat pengabaian kepentingan diri demi kepentingan bersama. Kedewasaan parsial hanyalah sebuah perjuangan diri/kelompok dengan mengabaikan yang lainnya. Pengabaian kepentingan diri demi yang lain akan memungkinkan pembangunan HAM yang utuh. Tanpa semangat itu pembangunan HAM yang utuh adalah mustahil. Yang ada hanya ide tentang HAM, tanpa kehadiran HAM itu sendiri. Tapi tetap saja tersisa pertanyaan, apakah pengabaian diri itu mungkin? Bukankah tiap manusia memiliki prasouposisi nilai-nilai (agama, budaya, sains)?
Sampai di sini, tampak ada lobang kecil, di mana celah nilai-nilai Kristen bisa masuk. Mungkin pencinta HAM “maniak” akan segera berkata, “Nah, prasouposisi lagi”. Tak perlu dibantah, karena memang ya. Sebagai seorang Kristen, kita dipanggil menyuarakan kebenaran, tanpa harus menang-menangan, banyak-banyakan. Bukankah all truth is God truth? Dalam keyakinan ini kita coba membangun HAM pada posisi yang pas. Menjawab pertanyaan ahli Taurat tentang hukum apakah yang terutama dalam hukum taurat, Yesus berkata, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, jiwa, dan akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.
Berangkat dari sini, kita buat sederhana dulu. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan hidup dan berbuat yang benar. Hidup yang benar pasti hidup yang berkeadilan. Hidup itu harus diaktualisasikan dalam hidup bersama dengan sesama manusia, apa pun suku, bangsa, agama dan kelas ekonominya. Ini berarti sebuah semangat pengabaian diri dengan mengutamakan yang lain. Ini berarti pula benih HAM itu sudah tertabur. Benih ini akan tumbuh subur di ladang kebersamaan yang penuh kepeduliaan, di mana kasih menjadi pupuk. Beberapa orang Kristen mungkin akan segera menggugat bahwa iman tidak bisa dikompromikan, karena kasih di ladang kepelbagaian bisa jadi social gospel. Apa iya? Ini masih diperdebatkan. Tapi, yang pasti, soal pertobatan seseorang, percaya Tuhan atau tidak, adalah kedaulatan Tuhan yang mutlak. Artinya, kasih sebagai cikal bakal HAM, sudah tepat dan bisa menjadi benih di mana Roh Tuhan bekerja dan menumbuhkannya.
read more...